Wafa Coffee and Space, kafe yang didirikan oleh pasangan suami istri yakni Linggam Septian atau yang lebih dikenal dengan Jimbon dan Erona Wafareta. Diambil dari nama sang istri, Wafa berdiri di kala pandemi Februari 2022. Membuka kafe adalah keinginan bersama sejak sebelum menikah, berawal dari sang istri yang memiliki usaha berjualan minuman dalam kemasan yang dibantu mengembangkan menu oleh Jimbon yang notabene pernah bekerja sebagai seorang barista. Pertanyaan dari pelanggan yang terus datang semakin menguatkan Linggam dan Erona untuk membuka kafe.

“Sering dapet pertanyaan dari teman yang membeli minuman istri, apakah ngga bisa kalau ngga pre order terus ada juga yang bertanya kenapa ga buka kafe aja. Akhirnya dari situ semakin yakin”, ungkap Jimbon.

Membuka kafe di kala pandemi tidaklah mudah. Memiliki rentan waktu beroperasi di jam 15.00 hingga 21.00 yang bisa dibilang cukup singkat, belum lagi jika terlampau sepi sehingga harus tutup terlebih dahulu. Pandemi berlalu, tantangan lain yang harus dihadapi adalah lokasi. Terletak di sentra perkopian Sudimoro belakang, lokasi ini menjadi peluang dan tantangan tersendiri bagi Wafa. Peluang karena terletak pada sentra perkopian yang dimana orang pasti tahu, namun terlepas dari itu banyak juga kafe lain sehingga konsumen bisa saja memilih opsi lainnya. Selain itu lahan parkir yang sempig juga sering menjadi tantangan utama mengingat banyak konsumen yang membawa mobil.

“Akhirnya kami bekerja sama, kafe sebelah yang memiliki lahan lebih luas menawarkan untuk parkir mobil customer, begitupun sebaliknya” ujar Jimbon.

Saat ini, Jimbon menyadari bahwa Sudimoro tidak lagi seramai dulu. Masyarakat banyak beralih ke Kayutangan yang tidak bisa dipungkiri memiliki fasilitas lengkap dan suasana yang menyenangkan. Mulai dari kafe, resto atau hanya sekedar duduk dan berjalan kaki menikmati suasananya. Juga, banyaknya kafe besar yang masif di Kota Malang membuat Wafa terkadang merasa tersampingkan. Tidak hanya diam, Wafa terus berkembang baik dari segi tempat, pelayanan juga menu yang disediakan. Wafa yakin bahwasannya akan selalu ada customer yang match dengan energi yang diberikan. Selain itu, konsistensi dalam menjalin hubungan dengan customer akhirnya mempertemukan Wafa dengan customer reguler mereka.

“Bahkan ada customer yang dalam satu minggu hampir enam hari datang kesini dengan pesanan yang sama”, ungkap Jimbon.

Wafa ingin menjadi tempat yang nyaman bagi siapapun yang datang. Selain itu keinginan sang istri untuk memiliki kafe yang bisa menjadi tempat untuk mengerjakan tugas atau juga bekerja.Karenanya, Wafa memperhatikan mulai dari tempat duduk yang diusahakan ada sandarannya, musholla dan kamar mandi yang nyaman juga menyediakan alat untuk bermain games. Wafa juga ingin menjadi tempat dimana customer bebas mengekspresikan apapun yang mereka sukai. Mulai dari outfit hingga apapun yang mereka kerjakan ketika berada di Wafa. Customer bisa memesan tanpa ada minimum pembelian, bebas memindahkan meja jika dibutuhkan juga misal gabut bisa bermain dengan games yang sudah disediakan atau juga mewarnai. 

Customer paling antusias untuk mewarnai. Karena mungkin jadi stress release dikala jenuh mengerjakan tugas” ujar Jimbon.

Tidak hanya customer, Wafa juga ingin menjadi tempat yang nyaman bagi karyawannya. Wafa memberikan kesempatan bagi siapapun untuk bisa bergabung dan belajar. Wafa selalu menekankan pada karyawannya untuk terus belajar hal baru dan konsisten pada apa yang dikerjakan, terutama hal yang berhubungan dengan customer. Sisi kekeluargaan yang dibangun Wafa menjadikan karyawan loyal dan pergantian karyawan cukup lambat. Kedekatan inilah yang menjadikan Wafa rumah bagi siapa saja.

“Kadang kami juga makan bareng, kalau ngga gitu ngegame bareng” ujar Jimbon. 

Tidak hanya aware dengan customer dan karyawannya, Wafa juga ingin peduli terhadap lingkungan. Berawal dari penjelasan oleh kurir iLitterless yang merupakan teman dari Jimbon, juga event Coffeepreneur yang membuat Wafa mengenal iLitterless semakin dalam. Dari situlah ketertarikan muncul, ditambah dengan sang istri yang juga menyukai program ramah lingkungan. Sejauh ini Wafa menjadi kafe yang paling bersih dalam memilah KBM. Pemilahan tersebut selalu dikerjakan dengan penuh semangat oleh karyawan Wafa.

“Kadang anak-anak ada yang tanya, mas nyuciku kurang bersih ga atau menatanya kurang rapi?”, ungkap Jimbon.

Adanya program iCos ini memberi dampak yang positif bagi Wafa. Selain karena terbantu dalam penanganan sampahnya, Wafa juga terhubung dengan lebih banyak relasi dan adanya insight pada sosial media. Wafa berharap kafe-kafe di Kota Malang bisa ikut untuk lebih aware terhadap lingkungan karena nantinya dampak positif yang ada akan kembali ke kafe tersebut. #yukpilahsampahdarikafe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *