Omah SAKA menjadi salah satu kafe yang cukup senior di Kota Malang. Buka dari tahun 2015, Omah SAKA telah melalui berbagai culture ngopi yang berbeda dari waktu ke waktu. Berlokasi awal di Bunga Cengkeh, Omah SAKA melakukan relokasi ke daerah Sudimoro agar memiliki space yang lebih besar dan strategis. Nama Omah SAKA sendiri berarti Omah dalam bahasa Jawa yang berarti ‘rumah’ dan SAKA yang merupakan singkatan ‘Shella Ari Sekeluarga’. Nama yang disematkan bukan tanpa alasan, Shella dan Ari yang merupakan pasangan suami istri ingin memiliki rumah yang nyaman dengan tempat ngopi di dalamnya. Oleh karena itu, Omah SAKA berdiri dengan mengusung konsep yang homie sehingga siapapun yang datang bisa merasakan seperti sedang di rumah sendiri.
“Kami ingin menjadi kafe homie yang nyaman bagi customer untuk nongkrong”, ungkap Danar selaku Manajer dari Omah SAKA.
Konsep homie yang diusung Omah SAKA menjadi lebih matang ketika aktif buka di daerah Sudimoro. Bukan terletak pada Sudimoro depan maupun belakang, tetapi Omah SAKA memilih berada di tengah-tengah dari itu agar mendapat suasana tenang dan bisa lebih mudah diingat oleh masyarakat karena menjadi satu-satunya kafe yang berdiri di lokasi tersebut.

Sebagai kafe yang sudah 9 tahun berdiri, Omah SAKA mengungkapkan tantangan yang sekarang dihadapi. Selain berperan sebagai rumah kedua, kafe juga sering menjadi pilihan kedua bagi kebanyakan customer untuk sekedar menghabiskan waktu. Omah SAKA tidak memungkiri bahwa customer yang datang lebih sering untuk nugas atau bekerja, tetapi satu hal yang hilang yakni culture untuk nongkrong bersama teman sampai larut atau subuh di kafe. Hal tersebut menjadi semakin terasa karena banyak anak muda yang lebih memilih menghabiskan waktu di tempat hiburan malam yang saat ini telah banyak berdiri di Kota Malang.
“Kalau dulu kan kami nongkrong di kafe bareng teman bisa sampai pagi, tapi kalau sekarang jam 11 malam gitu sudah cabut. Jadi ke kafe hanya untuk nugas, rapat dan sekedar nongkrong sebentar”, ujar Danar.
Selain itu, minat konsumen terhadap menu yang dipesan juga berubah. Omah SAKA juga mencoba mengobservasi selera konsumen yang mulai berubah dan menyesuaikannya. Dulu, manual brew menjadi menu favorit yang sering dipesan, namun sekarang konsumen lebih cenderung untuk memesan minuman milk based. Selain itu, untuk memenuhi selera konsumen terhadap minuman beralkohol, tak jarang saat ini banyak kafe yang saat ini tidak hanya menyediakan kopi.

Walau perbedaan culture tersebut semakin terasa dari waktu ke waktu, Omah SAKA selalu berupaya untuk menjadi wadah yang nyaman terutama bagi mahasiswa yang notabene mendominasi Kota Malang. Namun, hal ini bukan tanpa resiko, libur semester menjadi tantangan sendiri yang harus dihadapi Omah SAKA setiap tahunnya. Banyaknya mahasiswa yang ‘pulang kampung’ saat libur semester bisa berdampak pada turunnya keuntungan hingga menyentuh angka 40%. Hal lain yang menjadi tantangan adalah tentu saja adanya pandemi. Pada masa pandemi, Omah SAKA berinovasi perihal bagaimana caranya untuk tetap terhubung dengan customer. Selain mengadakan promo, Omah SAKA juga berinisiatif untuk datang ke customer dengan menjual produk yang memudahkan mereka, salah satu caranya adalah dengan mengantar door to door ke customer yang memesan.
Kota Malang yang semakin berkembang juga menjadikan kafe semakin banyak dan mudah ditemukan. Perihal banyaknya kafe di Kota Malang, Omah SAKA semakin berusaha kuat untuk menjadi memorable di hati customer. Berbagai pendekatan dilakukan, salah satunya adalah dengan selalu berkolaborasi bersama berbagai pihak. Omah SAKA menggandeng beberapa organisasi kampus yang dimana menjadikan Omah SAKA sebagai basecamp untuk rapat reguler.
Kolaborasi tidak hanya dilakukan dengan organisasi kampus, tetapi juga di luar itu seperti dengan iLitterless Indonesia. Omah SAKA adalah salah satu kafe yang berpartisipasi untuk perayaan HPSN (Hari Peduli Sampah Nasional) dengan ikut memilah sampah selama satu minggu pada Februari 2023 lalu. Omah SAKA ingin memaksimalkan apapun yang bisa digunakan, salah satunya adalah sampah.

“Kami ingin memaksimalkan apapun yang kami gunakan, bahkan salah satunya sampah yang kami produksi. Kami akhirnya tahu dan memiliki bukti nyata bahwa sampah bisa dimanfaatkan kembali, contohnya seperti plakat apresiasi yang diberikan”, ungkap Danar.
Bergabung pada iCos juga membuka pandangan baru bahwa sampah ternyata bisa dijadikan sesuatu yang kembali memiliki nilai fungsi. Selain itu penekanan pada kolaborasi juga menjadi poin penting yang dipertimbangkan. Sebelumnya, Omah SAKA pernah berkolaborasi untuk turut berkontribusi pada penanaman pohon. Berbagai upaya dan kolaborasi yang dilakukan harapannya bisa membantu dan bermanfaat bagi lingkungan. Selain itu, Omah SAKA coba memulai hal baik dari yang paling mudah yakni memilah sampah. #yukpilahsampahdarikafe